kelangkaan minyak goreng
Tuesday, September 25th, 2007Kelangkaan Minyak Goreng, Akankah Berakhir?
Kelangkaan
minyak goreng dipasaran benar-benar telah menjadi fenomena yang sangat
memberatkan bagi masyarakat. Bagaimana tidak, harga minyak goreng yang
“biasanya” hanya sekitar Rp. 6000 – 7000/kilo, sekarang telah mencapai harga
yang sangat fantastis dan menembus rekor, Rp. 10.000-11.000/kilo.
Operasi
pasar yang dilakukan pemerintah pada beberapa wilayah ternyata tidak mampu
menjawab persoalan mahalnya harga minyak goreng yang disebabkan oleh kelangkaan
minyak goreng tersebut. Operasi pasar memang mampu menurunkan harga minyak
goreng akan tetapi hanya selama beberapa jam saja, seperti yang terjadi di
Bogor; pemerintah melakukan operasi pasar dengan menjual minyak goreng seharga
Rp. 6.800/kilo yang mengakibatkan harga di pasar yang tadinya Rp. 10.000/kilo
turun menjadi Rp. 8.600/kilo. Akan tetapi, menjelang malam, harga kembali naik
menjadi Rp. 10.000/kilo. Ini membuktikan bahwa pemerintah harus melakukan
tindakan yang lain untuk menurunkan kembali harga minyak goreng, karena operasi
pasar ternyata tidak cukup “ampuh”.
Sementara
itu, masyarakat mulai merasakan dampak dari naiknya harga minyak goreng, baik
didalam rumah tangga ataupun dalam suatu usaha produksi. Sebutlah sebagai
contoh, seorang pedagang gorengan yang harus mengecilkan ukuran gorengannya
agar masih bisa mendapatkan keuntungan dari penjualannya. Ternyata cara ini
masih belum mampu mempertahankan keuntungan dari penggorengannya. Walau sudah
mengecilkan ukuran gorengannya, tetap saja penghasilan dari sipenjual gorengan
itu menurun. Tentu saja hal ini akan berdampak pada kehidupan keluarga si
tukang gorengan. Jika Anda merasa tidak percaya, silahkan bertanya langsung
kepada penjual gorengan yang ada disekeliling Anda.
Lalu,
apa yang menjadi penyebab langkanya minyak goreng dipasaran yang mengakibatkan
semakin mahalnya harga minyak goreng ini? Sedangkan data yang kita ketahui
secara umum dan selalu dibanggakan oleh pemerintah adalah Indonesia saat ini
merupakan penghasil minyak kepala sawit terbesar kedua setelah Malaysia di
Dunia. Kenapa terjadi suatu keadaan yang “ganjil” yaitu langkanya minyak goreng
di suatu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar?
Sesuai
dengan karakter industri Indonesia yang berorientasi kepada ekspor ternyata
minyak kelapa sawit Indonesia yang melimpah ruah dan seharusnya bisa mencukupi
kebutuhan minyak goreng didalam negeri telah di ekspor tanpa memperhatikan
kebutuhan dalam negeri. Para produsen minyak kelapa sawit Indonesia lebih
memilih untuk mengekspor minyak kelapa sawit karena harga minyak kelapa sawit
di luar negeri lebih tinggi dibanding harga minyak kelapa sawit di dalam
negeri. Walaupun sudah ada ketentuan tentang jumlah yang harus didistribusikan
di dalam negeri, tetap saja, karena harga minyak kelapa sawit yang terus naik
di pasar internasional, para produsen besar minyak kelapa sawit melakukan
ekspor. Hal ini merupakan hal yang wajar dalam bisnis, dimana seorang pengusaha
akan melakukan usaha untuk menaikan keuntungannya, dalam hal ini, pengusaha
minyak kelapa sawit mengekspor minyak kelapa sawit karena harga minyak kelapa
sawit lebih tinggi di pasar internasional.
Disini
fungsi pemerintah dibutuhkan. Untuk memastikan masyarakat mendapatkan minyak
goreng dengan harga yang wajar serta tidak memberatkan kehidupan. Tentu saja
persoalan kelangkaan minyak goreng yang diakibatkan oleh ekspor minyak kelapa
sawit yang tidak memperhatikan kebutuhan nasional ini tidak bisa dijawab oleh
operasi pasar. Dibutuhkan penanganan lain yang lebih fundamen, yaitu dengan
memberikan batasan ekspor minyak kelapa sawit untuk melindungi kebutuhan
nasional serta dengan membuat atau melahirkan peraturan yang mengharuskan
pengusaha mengalokasikan sejumlah minyak kelapa sawit sesuai dengan kebutuhan
nasional sebelum si pengusaha melakukan ekspor. Selain itu, pemerintah
sebaiknya sudah mulai memikirkan alokasi subsidi untuk membantu masyarakat mengakses
minyak goreng dengan harga yang wajar. Jika tindakan ini tidak dilakukan maka
bisa dipastikan fenomena naiknya harga minyak goreng akan menjadi fenomena yang
bertahan lama seperti peristiwa kenaikan harga bahan bakar minyak. Hal ini
tentu saja akan lebih menyengsarakan kehidupan masyarakat yang tengah didera
krisis ekonomi yang berkepanjangan.#